Perkenalan Bahasa Melayu Malaysia Supaya Bisa Ngobrol

Agu 17, 2025 | 0 Komentar

Belajar Bahasa Melayu Malaysia untuk percakapan sehari-hari

Ketika berkunjung ke Malaysia, Bahasa Melayu terasa sudah familiar di telinga orang Indonesia. Bahasa Melayu Malaysia merupakan bahasa Melayu baku yang menjadi bahasa resmi sekaligus bahasa nasional bagi seluruh warga negara Malaysia.

Namun, familiar bukan berarti sama persis. Justru kemiripan inilah yang sering menimbulkan salah paham, karena ada sejumlah kata yang bentuknya identik tetapi maknanya jauh berbeda. Artikel ini membahas hal-hal penting seputar Bahasa Melayu, mulai dari sejarah, aksara, kata serapan, perbedaan dengan Bahasa Indonesia, hingga contoh percakapan sederhana yang bisa langsung Anda praktikkan.

Sejarah Singkat Bahasa Melayu

Sejarah perkembangan Bahasa Melayu dari masa kuno hingga modern

Bahasa Melayu merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia, keluarga bahasa besar yang penuturnya tersebar dari Madagaskar hingga Kepulauan Pasifik. Banyak warga di kawasan Maritim Asia Tenggara yang menggunakan bahasa ini, sehingga Bahasa Melayu sejak lama berperan sebagai bahasa perantara perdagangan di kawasan tersebut.

Perkembangannya berlangsung melalui beberapa fase yang cukup panjang.

Melayu Purba diyakini sebagai bentuk awal dari bahasa nenek moyang bangsa Austronesia, meski bukti tertulisnya belum ditemukan.

Melayu Kuno berkembang sekitar abad ke-7 hingga ke-14. Bukti tertulis tertua berasal dari prasasti-prasasti era Sriwijaya di Sumatra, seperti Prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 Masehi. Pada fase ini, bahasa Melayu banyak menyerap kosakata dari Sanskerta dan Bahasa Tamil Kuno, seiring kuatnya pengaruh Hindu dan Buddha.

Melayu Klasik muncul sejak kedatangan Islam di Nusantara sekitar abad ke-14. Fase ini ditandai masuknya banyak kosakata Arab dan Persia, serta lahirnya karya sastra besar seperti Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu.

Melayu Pramodern berkembang sekitar abad ke-19, ketika pengaruh kolonial Barat meluas di wilayah kepulauan Melayu. Para penjajah pada masa itu menyadari pentingnya memahami Bahasa Melayu untuk keperluan administrasi dan perdagangan.

Melayu Modern terbentuk pada abad ke-20 dan menjadi cikal bakal dua bahasa nasional sekaligus, yaitu Bahasa Malaysia dan Bahasa Indonesia. Di Indonesia sendiri, ragam Melayu masih hidup di berbagai daerah seperti Palembang, Jambi, Pontianak, dan Kerinci.

Aksara Melayu: Dari Kawi hingga Rumi

Bagian yang sering terlewat adalah sejarah aksaranya. Bahasa Melayu telah ditulis dengan beberapa sistem aksara yang berbeda sepanjang sejarahnya.

Pada masa Melayu Kuno, penulisan menggunakan aksara turunan Pallava seperti **Kawi**, serta aksara Rencong di wilayah Sumatra. Setelah Islam masuk, berkembanglah aksara **Jawi**, yaitu huruf Arab yang dimodifikasi dengan tambahan beberapa huruf untuk menampung bunyi khas Melayu seperti “ng”, “ny”, “p”, dan “g”.

Aksara Jawi sempat menjadi tulisan utama Bahasa Melayu selama berabad-abad. Menariknya, aksara ini belum punah. Di Malaysia, Jawi masih digunakan dalam konteks keagamaan, penerbitan tertentu, dan papan nama di beberapa negara bagian seperti Kelantan dan Terengganu. Di Brunei, Jawi bahkan berstatus aksara resmi berdampingan dengan huruf Latin.

Adapun huruf Latin yang kita gunakan sekarang disebut aksara **Rumi**, yang mulai dominan sejak era kolonial dan kini menjadi tulisan resmi Bahasa Melayu modern.

Status Bahasa Melayu di Malaysia

Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dan bahasa nasional Malaysia

Bahasa Melayu ditetapkan sebagai bahasa kebangsaan Malaysia dan digunakan dalam pemerintahan, pendidikan, serta administrasi resmi. Penyebutannya sendiri sempat berubah-ubah antara “Bahasa Melayu” dan “Bahasa Malaysia” tergantung kebijakan pemerintah pada masanya, meski keduanya merujuk pada bahasa yang sama.

Lembaga yang bertugas membina dan mengembangkan bahasa ini adalah Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), yang perannya kurang lebih setara dengan Badan Bahasa di Indonesia.

Perlu diketahui, Malaysia adalah negara multietnis. Selain Bahasa Melayu, masyarakatnya juga menggunakan bahasa Inggris, Mandarin beserta dialeknya, dan Tamil. Di lingkungan kampus, terutama universitas swasta dan program internasional, bahasa pengantar yang dipakai umumnya justru Bahasa Inggris.

Perbedaan dengan Bahasa Indonesia

Meski serumpun, Bahasa Melayu Malaysia dan Bahasa Indonesia memiliki sejumlah perbedaan dalam pelafalan, kosakata, dan pengaruh bahasa asing.

Perbedaan Pelafalan

Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada huruf r di akhir kata. Dalam Bahasa Indonesia, kata putar dilafalkan dengan huruf r yang jelas. Sementara dalam Bahasa Melayu Malaysia, huruf r di akhir kata cenderung melemah atau hilang, sehingga terdengar seperti “puta”.

Selain itu, huruf a di akhir kata sering dilafalkan menyerupai bunyi “e” lemah. Kata apa terdengar seperti “ape”, dan lama terdengar seperti “lame”. Inilah sebabnya penulisan informal di media sosial Malaysia kadang mengikuti bunyi tersebut.

Perbedaan Kosakata

Sejumlah benda dan konsep sehari-hari memiliki sebutan berbeda. Berikut beberapa contoh yang paling sering ditemui:

Bahasa Indonesia Bahasa Melayu Malaysia
Uang Wang / duit
Toko Kedai
Mobil Kereta
Rumah sakit Hospital
Universitas Universiti
Senin Isnin
Maret / Agustus Mac / Ogos
Karena Kerana
Tantangan Cabaran
Televisi Televisyen

Pengaruh Belanda dan Inggris

Ada satu pola menarik yang menjelaskan banyak perbedaan kosakata di atas. Indonesia yang pernah dijajah Belanda banyak menyerap kata dari bahasa tersebut, seperti kantor (kantoor), apotek (apotheek), handuk (handdoek), knalpot, bengkel, dan rekening.

Sementara Malaysia yang berada di bawah pengaruh Inggris menyerap kosakata dari bahasa Inggris atau menciptakan padanan sendiri. Karena itu, kantor menjadi pejabat, apotek menjadi farmasi, dan handuk menjadi tuala. Perbedaan sumber serapan inilah yang membuat kedua bahasa terasa berbeda meski akarnya sama.

Kata yang Sama Tapi Berbeda Makna

Inilah bagian yang paling penting diketahui agar tidak salah paham. Sejumlah kata terlihat identik, tetapi maknanya berbeda jauh:

Kata Arti di Malaysia Arti di Indonesia
Budak Anak kecil Hamba sahaya
Pejabat Kantor Orang yang memegang jabatan
Percuma Gratis Sia-sia
Kereta Mobil Kereta api
Pusing Berbelok, berputar Sakit kepala
Pokok Pohon Inti, utama
Berbual Mengobrol Berkata bohong
Comel Lucu, menggemaskan Tidak bisa simpan rahasia
Ahli Anggota Pakar
Jimat Hemat Benda bertuah
Pengacara Pembawa acara Pembela hukum (BM: peguam)

Jadi, jika ada yang menyebut anak Anda “budak comel”, itu justru pujian yang berarti anak yang menggemaskan. Begitu pula bila melihat papan bertuliskan “Pejabat Imigresen”, artinya Kantor Imigrasi.

Sebagai catatan tambahan, ada pula beberapa kata yang lazim di Indonesia namun terdengar kasar di Malaysia. Karena itu, saat awal tinggal di sana, sebaiknya perhatikan reaksi lawan bicara dan jangan ragu bertanya jika ragu.

Kata Serapan dalam Bahasa Melayu

Bahasa Melayu kaya akan kosakata serapan yang mencerminkan sejarah panjang kontaknya dengan berbagai bangsa:

  • Sanskerta: agama, aksara, angkasa, bahasa, bahaya, cinta, dan dosa. Serapan ini masuk pada era Melayu Kuno seiring pengaruh Hindu-Buddha.
  • Arab: abjad, alim, adil, hikmah, kabar, dan kitab. Masuk bersamaan dengan penyebaran Islam.
  • Persia: anggur, bandar, cadar, dewan, dan gandum.
  • Tamil: kedai, kapal, dan mangga, yang menandakan eratnya hubungan dagang dengan India Selatan.
  • Portugis: garpu (garfo), bangku (banco), baldi (balde), dan gereja (igreja), warisan era Melaka abad ke-16.
  • Tionghoa: banyak berkaitan dengan kuliner dan perdagangan, seperti tauhu, mi, kongsi, dan tauke.
  • Inggris: televisyen, telefon, komputer, kek, basikal, dan teksi. Kelompok inilah yang paling dominan pada era modern.

Menariknya, kata serapan Inggris di Malaysia sering ditulis mengikuti ejaan bunyinya, seperti televisyen dan basikal, sementara Bahasa Indonesia lebih sering menyesuaikan dengan pola sendiri, seperti televisi dan sepeda.

Contoh Percakapan Perkenalan Sehari-hari

Percakapan perkenalan dalam Bahasa Melayu Malaysia antar mahasiswa

Sebelum masuk ke contoh percakapan, penting memahami tingkat kesopanan. Kata awak berarti “kamu” dan bersifat informal, cocok dipakai dengan teman sebaya. Untuk situasi formal atau kepada orang yang lebih tua, gunakan anda, atau sapaan seperti encik (bapak) dan puan (ibu).

Berikut contoh percakapan saat berkenalan dengan sesama mahasiswa pada siang hari:

  • Helo! (Halo)
  • Selamat tengah hari. (Selamat siang)
  • Siapa nama awak? (Siapa nama kamu?)
  • Nama saya Rina. Awak asal mana? (Nama saya Rina. Kamu berasal dari mana?)
  • Saya dari Indonesia. Apa khabar? (Saya dari Indonesia. Apa kabar?)
  • Saya sihat, terima kasih. (Saya baik-baik saja, terima kasih)
  • Gembira berjumpa dengan awak. (Senang bertemu dengan kamu)
  • Jumpa lagi! (Sampai jumpa lagi)

Beberapa frasa lain yang sering terdengar antara lain lama tak jumpa (lama tidak bertemu), boleh tolong saya? (bisa tolong saya?), berapa harga ini? (berapa harganya?), dan tandas yang berarti toilet.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Bahasa Melayu Malaysia

1. Apakah orang Indonesia bisa langsung mengerti Bahasa Melayu Malaysia?

Sebagian besar bisa dipahami karena keduanya serumpun dan berbagi banyak kosakata dasar. Namun, ada perbedaan pelafalan, kosakata sehari-hari, dan sejumlah kata yang bentuknya sama tetapi maknanya berbeda. Umumnya dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk benar-benar terbiasa, terutama dengan logat dan istilah lokal.

2. Apa perbedaan Bahasa Melayu dan Bahasa Malaysia?

Keduanya merujuk pada bahasa yang sama. Perbedaannya hanya pada penyebutan resmi yang beberapa kali berubah mengikuti kebijakan pemerintah Malaysia. Secara linguistik, tidak ada perbedaan di antara keduanya.

3. Apakah kuliah di Malaysia harus menguasai Bahasa Melayu?

Tidak selalu. Mayoritas program internasional dan universitas swasta di Malaysia menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Namun, menguasai Bahasa Melayu dasar sangat membantu untuk kehidupan sehari-hari, seperti berbelanja, mengurus administrasi, dan berinteraksi dengan warga lokal.

4. Apa itu aksara Jawi?

Jawi adalah sistem penulisan Bahasa Melayu menggunakan huruf Arab yang dimodifikasi dengan tambahan huruf untuk bunyi khas Melayu. Aksara ini sempat menjadi tulisan utama selama berabad-abad. Hingga kini Jawi masih digunakan dalam konteks keagamaan dan papan nama di beberapa negara bagian Malaysia, serta berstatus resmi di Brunei.

Siapkan Diri Sebelum Kuliah di Malaysia

Menguasai dasar-dasar Bahasa Melayu Malaysia akan sangat membantu Anda beradaptasi, baik untuk bekerja maupun kuliah di sana. Modal Bahasa Indonesia yang sudah Anda miliki sebenarnya merupakan keunggulan besar, asalkan Anda juga memahami perbedaannya agar tidak salah paham.

Sebelum melanjutkan studi ke kampus ternama di Malaysia, ada baiknya Anda mengenal lingkungan dan bahasanya terlebih dahulu. Pelajari juga budaya Melayu agar proses adaptasi lebih mulus. Untuk perencanaan studi, konsultasikan rencana Anda bersama Tutoravel, mulai dari pemilihan universitas hingga persiapan keberangkatan.


Ditinjau dan diperbarui oleh Tim Konten Tutoravel pada 28 Juni 2026. Artikel ini membahas Bahasa Melayu Malaysia beserta sejarah, aksara, kata serapan, dan perbedaannya dengan Bahasa Indonesia, dengan verifikasi asal-usul kosakata dari referensi kebahasaan terpercaya. Penggunaan kosakata sehari-hari dapat bervariasi antardaerah di Malaysia.

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *