
Memahami sistem hukum Malaysia merupakan salah satu hal yang penting bagi calon mahasiswa, terutama bagi Anda yang berencana mengambil jurusan Hukum (Law), Politik, atau Hubungan Internasional di sana. Sebagai negara tetangga, Malaysia memiliki sistem hukum yang berbeda dari Indonesia.
Berikut merupakan uraian mengenai perkembangan dan struktur sistem hukum Malaysia.
Contents
- 1 Fondasi Hukum: Antara Tradisi dan Kolonialisme
- 2 Sistem Hukum Ganda (Dual Legal System) di Malaysia
- 3 Hierarki Pengadilan di Malaysia
- 3.1 Mahkamah Atasan (Superior Courts)
- 3.2 Mahkamah Persekutuan (Federal Court)
- 3.3 Mahkamah Rayuan Malaysia (Court of Appeal)
- 3.4 Mahkamah Tinggi Malaya dan Mahkamah Tinggi Sabah dan Sarawak
- 3.5 Mahkamah Rendah (Subordinate Courts)
- 3.6 Mahkamah Sesyen Malaysia (Sessions Court)
- 3.7 Mahkamah Majistret Malaysia (Magistrates’ Court)
- 4 Pola Banding dalam Sistem Peradilan
- 5 Sumber Hukum Utama di Malaysia
- 6 Wujudkan Karier Hukum Global Bersama Tutoravel
Fondasi Hukum: Antara Tradisi dan Kolonialisme
Sistem hukum Malaysia terbentuk melalui proses sejarah yang mempertemukan tradisi Melayu-Islam dengan sistem hukum Inggris. Berbeda dari Indonesia yang menganut Civil Law warisan Belanda, Malaysia mengadopsi sistem Common Law sebagai kerangka peradilannya, dengan supremasi Konstitusi Federal dan penekanan pada hukum tertulis nasional.

Masa Kesultanan: Adat dan Syariah sebagai Dasar
Sebelum kolonialisme, wilayah Melayu sudah memiliki sistem hukum dalam kerangka monarki, di mana sultan memiliki otoritas politik sekaligus hukum tanpa pemisahan kekuasaan modern. Hukum adat menjadi dasar pengaturan sosial, dengan Adat Perpatih yang bercorak matrilineal berkembang di Negeri Sembilan dan Adat Temenggung yang lebih hierarkis berlaku di wilayah lain.
Sejak abad ke-13, hukum Islam terintegrasi ke dalam pemerintahan tanpa menghapus adat. Kodifikasi penting tampak dalam Undang-Undang Melaka pada masa Kesultanan Melaka, yang mengatur pidana, perdata, perdagangan, dan syariah, menunjukkan bahwa tradisi hukum tertulis telah berkembang sebelum kedatangan Barat.
Era Kolonial Inggris: Institusionalisasi Common Law
Perubahan besar terjadi pada abad ke-19 ketika Inggris memperkenalkan sistem Common Law melalui Charters of Justice. Sistem ini mula-mula diterapkan di Penang, Melaka, dan Singapura yang dikenal sebagai Straits Settlements. Inggris membentuk pengadilan modern dan menerapkan prinsip preseden, sehingga putusan hakim menjadi sumber hukum yang mengikat dan hukum berkembang melalui praktik peradilan.
Pengaruh tersebut kemudian meluas ke seluruh Federasi Malaya. Namun, hukum adat dan Islam tidak sepenuhnya dihapus, melainkan dibatasi pada ranah personal. Akibatnya, terbentuk dualitas sistem yaitu hukum kolonial mengatur urusan publik dan ekonomi, sementara hukum adat dan Islam tetap berlaku bagi masyarakat Muslim dalam bidang tertentu.
Pasca Kemerdekaan 1957: Supremasi Konstitusi
Setelah merdeka pada 31 Agustus 1957, Malaysia tetap mempertahankan sistem Common Law, tetapi menundukkannya pada kerangka konstitusional nasional. Konstitusi Federal Malaysia menjadi hukum tertinggi yang mengikat seluruh peraturan perundang-undangan.
Hukum sipil dan pidana di Malaysia terutama diatur melalui undang-undang tertulis nasional, dengan prinsip Common Law berperan sebagai sumber tambahan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Melalui Civil Law Act, prinsip hukum Inggris hanya diterapkan sejauh selaras dengan kondisi lokal dan tidak bertentangan dengan hukum nasional.
Karakter Hukum Malaysia
Secara keseluruhan, sistem hukum Malaysia bukan sekadar warisan kolonial. Ia merupakan hasil adaptasi yang memadukan legitimasi tradisi Melayu, norma Islam, dan struktur institusional Common Law. Sintesis inilah yang membentuk identitas hukum Malaysia sebagai negara Common Law yang berakar kuat pada sejarah dan konstitusi nasionalnya.
Sistem Hukum Ganda (Dual Legal System) di Malaysia
Malaysia menerapkan sistem hukum ganda yang khas, di mana hukum sipil dan hukum syariah berjalan berdampingan dengan yurisdiksi yang berbeda.

Hukum Sipil (Civil Law)
Berlaku untuk seluruh warga negara Malaysia (muslim maupun nonmuslim) dalam urusan pidana dan perdata umum (kontrak, tort, komersial).
Hukum Syariah
Hanya berlaku bagi penganut agama Islam dan terbatas pada urusan personal serta keluarga seperti pernikahan, perceraian, dan warisan (faraid). Pengadilan Syariah memiliki yurisdiksi tersendiri atas perkara yang ditentukan konstitusi, dan Pengadilan Sipil pada prinsipnya tidak dapat mencampuri perkara dalam lingkup tersebut.
Hierarki Pengadilan di Malaysia
Struktur peradilan Malaysia dibangun secara berlapis untuk menjamin mekanisme banding yang sistematis dan kepastian hukum. Secara umum, sistem ini terbagi menjadi Mahkamah Atasan (Superior Courts) dan Mahkamah Rendah (Subordinate Courts), dengan kewenangan yang berbeda pada setiap tingkatnya.

Mahkamah Atasan (Superior Courts)
Mahkamah Atasan merupakan pilar utama dalam sistem yudisial Malaysia. Lembaga ini memiliki kewenangan luas, termasuk fungsi banding dan pengujian konstitusionalitas undang-undang.
Mahkamah Persekutuan (Federal Court)
Mahkamah Persekutuan adalah pengadilan tertinggi di Malaysia. Lembaga ini menjadi otoritas banding terakhir dalam perkara perdata dan pidana. Selain itu, Mahkamah Persekutuan berperan sebagai penafsir utama Konstitusi Federal Malaysia.
Kewenangannya mencakup:
- Mengadili banding dari Mahkamah Rayuan
- Menentukan keabsahan undang-undang jika diduga bertentangan dengan konstitusi
- Menyelesaikan sengketa kewenangan antara pemerintah federal dan negara bagian
Putusan Mahkamah Persekutuan bersifat final dan mengikat.
Mahkamah Rayuan Malaysia (Court of Appeal)
Mahkamah Rayuan berada satu tingkat di bawah Mahkamah Persekutuan. Tugas utamanya adalah mendengar dan memutus banding dari Mahkamah Tinggi, baik dalam perkara perdata maupun pidana.
Pengadilan ini tidak memeriksa ulang fakta secara keseluruhan, tetapi menilai penerapan hukum dan prosedur yang dilakukan oleh Mahkamah Tinggi. Jika para pihak masih tidak puas, mereka dapat mengajukan banding ke Mahkamah Persekutuan dengan izin tertentu.
Mahkamah Tinggi Malaya dan Mahkamah Tinggi Sabah dan Sarawak
Berfungsi sebagai pengadilan tingkat pertama untuk perkara pidana berat dan gugatan perdata bernilai besar, sekaligus sebagai pengadilan banding dari Mahkamah Rendah serta memiliki kewenangan judicial review. Malaysia memiliki dua Mahkamah Tinggi dengan yurisdiksi teritorial berbeda:
- Mahkamah Tinggi Malaya (untuk Semenanjung Malaysia)
- Mahkamah Tinggi Sabah dan Sarawak (untuk Malaysia Timur)
Kewenangannya meliputi:
- Perkara pidana berat (misalnya pembunuhan)
- Gugatan perdata dengan nilai tinggi
- Judicial review terhadap tindakan pemerintah
- Pengawasan terhadap Mahkamah Rendah
Mahkamah Rendah (Subordinate Courts)
Subordinate Courts atau Mahkamah Rendah menangani perkara sehari-hari dengan tingkat kompleksitas dan nilai yang lebih rendah.
Mahkamah Sesyen Malaysia (Sessions Court)
Mahkamah Sesyen menangani perkara pidana dan perdata dengan tingkat keseriusan menengah. Dalam perkara pidana, pengadilan ini dapat menjatuhkan hukuman berat kecuali hukuman mati. Dalam perkara perdata, kewenangannya dibatasi oleh nilai gugatan tertentu sesuai undang-undang. Putusan Mahkamah Sesyen dapat diajukan banding ke Mahkamah Tinggi.
Mahkamah Majistret Malaysia (Magistrates’ Court)
Mahkamah Majistret adalah tingkat terendah dalam hierarki peradilan sipil. Pengadilan ini menangani perkara pidana ringan dan gugatan perdata bernilai kecil. Sebagian besar perkara sehari-hari masyarakat diselesaikan di tingkat ini. Putusannya dapat diajukan banding ke Mahkamah Tinggi.
Pola Banding dalam Sistem Peradilan
Alur banding dalam sistem peradilan Malaysia berlangsung secara bertingkat, dimulai dari Mahkamah Majistret atau Mahkamah Sesyen, kemudian ke Mahkamah Tinggi, dilanjutkan ke Mahkamah Rayuan, dan berakhir di Mahkamah Persekutuan sebagai tingkat tertinggi.
Struktur tersebut mencerminkan karakteristik sistem Common Law yang menempatkan proses banding dan preseden yudisial sebagai mekanisme penting dalam perkembangan hukum. Melalui tata peradilan yang berjenjang, tercipta mekanisme pengawasan antar-tingkat pengadilan yang mendukung konsistensi dan keseragaman penerapan hukum di seluruh wilayah federasi Malaysia.

Sumber Hukum Utama di Malaysia
Dalam sistem hukum Malaysia, terdapat empat sumber hukum utama yang menjadi dasar pembentukan dan penerapan hukum. Keempatnya saling melengkapi dan mencerminkan karakter Malaysia sebagai negara Common Law dengan identitas federal dan pluralistik.
Hukum Tertulis (Written Law)
Hukum tertulis adalah sumber hukum yang paling formal dan memiliki kedudukan utama. Di puncak hierarki terdapat Konstitusi Federal Malaysia sebagai hukum tertinggi negara. Konstitusi ini mengatur struktur pemerintahan federal, pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan negara bagian, hak-hak fundamental warga negara, serta kedudukan Islam dan institusi monarki.
Di bawah Konstitusi Federal terdapat Konstitusi Negara Bagian yang berlaku di masing-masing negara bagian. Selain itu, Parlemen Malaysia berwenang membentuk undang-undang (akta Parlemen) untuk isu-isu dalam daftar federal, sedangkan Dewan Undangan Negeri membuat Enakmen untuk kewenangan negara bagian. Seluruh peraturan tersebut harus sejalan dengan Konstitusi Federal dan dapat diuji keabsahannya di pengadilan.
Hukum Tidak Tertulis (Unwritten Law)
Sebagai negara yang menganut sistem Common Law, Malaysia juga mengakui hukum tidak tertulis. Sumber ini meliputi prinsip-prinsip English Common Law dan doktrin ekuitas (equity) yang diwarisi dari Inggris.
Penerapannya diatur melalui Civil Law Act, yang menyatakan bahwa prinsip hukum Inggris hanya berlaku sejauh sesuai dengan kondisi lokal dan tidak bertentangan dengan undang-undang nasional. Selain itu, yurisprudensi atau putusan hakim terdahulu memiliki kekuatan mengikat melalui doktrin preseden (stare decisis). Dengan demikian, putusan pengadilan yang lebih tinggi harus diikuti oleh pengadilan yang lebih rendah dalam perkara serupa. Mekanisme ini membuat hukum berkembang melalui praktik peradilan.
Hukum Islam
Hukum Islam merupakan sumber hukum yang diakui secara konstitusional, tetapi penerapannya terbatas pada umat Muslim dan berada di bawah kewenangan negara bagian. Setiap negara bagian memiliki legislasi syariah tersendiri yang mengatur persoalan seperti perkawinan, perceraian, waris, zakat, dan pelanggaran moral tertentu.
Pengadilan Syariah berdiri terpisah dari pengadilan sipil dan memiliki yurisdiksi khusus. Namun, kewenangannya dibatasi oleh konstitusi dan tidak boleh melampaui bidang yang telah ditentukan. Dengan demikian, hukum Islam menjadi bagian penting dari sistem hukum Malaysia, tetapi tetap berada dalam kerangka federal.
Hukum Adat
Hukum adat masih diakui dalam ruang lingkup tertentu, terutama di kalangan masyarakat pribumi di Sabah dan Sarawak. Di wilayah ini terdapat pengadilan adat yang menangani sengketa berbasis tradisi lokal, seperti urusan tanah adat dan struktur sosial masyarakat.
Pengakuan terhadap hukum adat menunjukkan bahwa sistem hukum Malaysia tidak sepenuhnya homogen. Negara memberikan pengakuan terbatas terhadap norma-norma tradisional selama tidak bertentangan dengan hukum tertulis dan konstitusi.

Wujudkan Karier Hukum Global Bersama Tutoravel
Memahami keunikan sistem hukum Malaysia merupakan langkah awal bagi Anda yang bercita-cita menjadi praktisi hukum berwawasan internasional. Malaysia yang menganut sistem Common Law menawarkan pendidikan hukum berkualitas melalui sejumlah universitas ternama seperti Universiti Malaya (UM), Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM/IIUM), Universiti Teknologi MARA (UiTM), Universiti Utara Malaysia (UUM), serta Universiti Sains Malaysia (USM), yang telah dikenal memiliki fakultas atau sekolah hukum dengan reputasi akademik yang kuat.
Namun, memilih universitas dengan akreditasi terbaik dan menavigasi proses pendaftaran di negara dengan sistem Common Law tentu memerlukan persiapan yang matang. Di sinilah Tutoravel hadir sebagai mitra strategis Anda. Sebagai konsultan pendidikan luar negeri yang tepercaya, Tutoravel berkomitmen mendampingi setiap langkah perjalanan akademik Anda, mulai dari pemilihan program studi hukum yang sesuai dengan minat dan rencana karier, pengurusan dokumen pendaftaran, hingga persiapan keberangkatan.
Kami memastikan Anda mendapatkan akses ke institusi pendidikan tinggi di Malaysia yang mampu membekali Anda dengan keahlian hukum lintas negara, sehingga Anda siap bersaing di firma hukum global maupun organisasi internasional. Bersama Tutoravel, impian Anda untuk menguasai hukum di negeri jiran menjadi lebih terarah, mudah, dan terencana.
0 Comments