Negara Termiskin di Dunia, Kenapa Bisa Semiskin Itu?

Sep 25, 2025 | 0 comments

Salah satu pembahasan yang cukup menyita perhatian dunia ialah keberadaan negara-negara miskin. Negara termiskin di dunia menjadi sorotan penting di era globalisasi dan juga krisis ekonomi yang terjadi saat ini.

Untuk memahami informasi ini lebih jelas, artikel ini membahas apa arti sebenarnya dari istilah “miskin” tersebut. Lalu bisa kita simak juga daftar 5 negara termiskin 2025. Tentunya disertakan pula solusi yang ditawarkan dunia untuk membantu negara-negara tersebut menghapus kemiskinan.

Definisi dari Negara Termiskin di Dunia

Istilah negara termiskin di dunia memang sudah tidak asing lagi, dan ini merujuk pada negara-negara dengan pendapatan per kapita sangat rendah. Biasanya diukur berdasarkan GDP per kapita dalam Purchasing Power Parity (PPP).

Indikator ini tentunya memberikan petunjuk dari daya beli rata-rata penduduk di negara tersebut. Negara-negara termiskin ini biasanya memiliki GDP per kapita PPP di kisaran USD 1.000–2.100.

Ada banyak faktor yang menyebabkan negara tersebut memiliki pendapatan rendah. Salah satunya ialah dari penyebab utamanya adalah konflik berkepanjangan, infrastruktur yang lemah, ketergantungan pada pertanian subsisten. Selain itu, ada satu lagi yang tidak kalah pentingnya, yakni lemahnya institusi pemerintahan di negara tersebut.

Berikut data terbaru dari IMF mengenai negara-negara termiskin di dunia.

Yaman (Asia)

Dari benua Asia ada Yaman yang masih termasuk negara miskin. Yaman merupakan salah satu negara Asia dengan GDP per kapita PPP terendah pada 2025. GDP per kapita PPP di negara ini tercatat sekitar USD 2.020. Data ini menurut data dari IMF periode Januari sampai dengan April 2025.

Yang menjadi salah satu pemicunya ialah tidak lain dan tidak bukan karena adanya konflik yang berkepanjangan. Konflik sipil yang terjadi di sana sejak 2015 telah menghancurkan cukup banyak infrastruktur, memicu krisis pangan yang cukup panjang. Dan tentu saja membuat lumpuh sisi ekonomi negara. Inflasi tinggi dan ketergantungan penuh pada bantuan internasional inilah yang kerap memperburuk kondisi kehidupan warga Yaman.

Sudan

Lalu negara berikutnya ada dari Sudan. Bahkan menurut World Bank (hingga pertengahan 2025), Sudan memiliki GDP per kapita PPP sekitar USD 1.872 pada 2025, turun dari sekitar USD 4.468 pada 2011.

Kenapa bisa menurun? Ya penurunan tajam ini banyak yang mengklaim ialah karena  disebabkan oleh konflik internal yang juga berkepanjangan. Selain itu, sanksi ekonomi global dan ketidakstabilan politik berkepanjangan turut memperburuk keadaan.

Hal ini menyebabkan cukup banyaknya rakyat Sudan hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi mereka ini lebih dari 60% populasi yang rentan terhadap kelaparan dan keterbatasan akses layanan dasar. Tentunya ini menjadi amat memprihatinkan.

Burundi

Negara yang berikutnya masih ada di Afrika. Burundi berada di urutan teratas atau kedua termiskin di dunia menurut IMF 2025, dengan GDP per kapita PPP sekitar USD 1.010.

Sisi dari ekonomi yang ada di sini sangat tergantung pada pertanian subsisten, sedangkan industrialisasi dan investasi asing sangat terbatas. Bahkan sekitar 80% penduduknya hidup dalam kemiskinan dan minim akses terhadap dunia pendidikan serta layanan kesehatan dasar.

Mozambik

Juga masih ada di kawasan Afrika, Mozambik memiliki GDP per kapita PPP sekitar USD 1.789 pada 2025. Meskipun negara ini punya sumber daya alam yang signifikan, pembangunan infrastruktur sangat justru terbatas. Negara ini memiliki ketergantungan pada sektor pertanian tradisional dan dampak perubahan iklim memperparah situasi kemiskinan struktural.

Malawi

Negara terakhir yang masuk kategori termiskin di dunia ialah Malawi. Malawi memiliki GDP per kapita PPP sekitar USD 1.737 pada 2025.

Ekonomi negara ini sangat bergantung pada pertanian dan rawan terhadap fluktuasi cuaca. Tingkat utang publik yang tinggi dan inflasi kronis juga menjadi penyebab terpuruknya ekonomi dan kehidupan di sini. Dan itu menjadi alasan utamanya dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Jika melihatnya secara luas, kelima negara tadi, yakni Yaman, Sudan, Burundi, Mozambik, dan juga Malawi menghadapi tantangan yang serupa, yakni ketergantungan pada pertanian subsisten, konflik internal atau ketidakstabilan politik, kurangnya akses ke investasi global, dan kerentanan terhadap perubahan iklim.

Tentunya Anda bisa membayangkan ya betapa kondisi ekonomi mereka masih jauh di bawah rata‑rata global. Walaupun ini hanya gambaran yang terjadi secara materi, namun tentu saja tidak akan jauh berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Atau mungkin bisa terjadi yang lebih parah lagi dalam kondisi saat ini. Tentunya menggambarkan jurang besar antara negara‑negara berkembang mapan dan yang masih berjuang memutus siklus kemiskinan.

Data GDP per kapita PPP ini memberikan gambaran konkret betapa rendahnya daya beli rata-rata penduduk di negara-negara tadi, dan juga negara lainnya di dunia yang masuk ke dalam kategori miskin.

Adakah Upaya Internasional dan Peluang Solusi untuk Membantu Negara Miskin Tadi?

Tentu saja ada karena itu menjadi perhatian banyak negara maju dan juga PBB sendiri. Banyak organisasi global dan lembaga pembangunan telah fokus membantu negara termiskin di dunia yang tidak hanya di lima negara tadi, juga termasuk negara lain. Semua itu lewat berbagai pendekatan, misalnya saja berikut ini:

  1. ·       Bantuan keuangan dan pinjaman lunak yang harapannya bisa membantu.
  2. ·       Reformasi fiskal dan penguatan sistem pajak.
  3. ·       Pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia yang terus ditingkatkan oleh komunitas internasional.
  4. ·       Diversifikasi ekonomi dan investasi dalam dunia infrastruktur.
  5. ·       Perhatian pada stabilitas politik dan penyelesaian konflik yang harus dengan segera dan tidak berlarut-larut.

Dengan data dan definisi yang cukup jelas tadi, semoga saja kita yang sudah tahu dengan kondisi negara termiskin di dunia tadi bisa ikut memberi perhatian. Semoga bisa memberikan manfaat.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *