Festival Budaya Thailand untuk Mahasiswa Indonesia

Jun 17, 2026

Thailand dikenal sebagai destinasi wisata tropis sekaligus negara dengan budaya yang kuat dan berakar panjang. Oleh karena itu, memahami berbagai hari raya dan festival menjadi cara efektif untuk mengenal kehidupan masyarakat lokal. Selain itu, sebagian besar perayaan di Thailand merupakan perpaduan antara ritual keagamaan Buddha yang khidmat dan pesta rakyat yang meriah serta penuh warna.

Songkran: Festival Air dan Tahun Baru Thailand

Dikenal sebagai salah satu perayaan paling ikonik dan paling dinantikan di Thailand. Songkran bukan sekadar pesta air biasa, perayaan ini membuat aktivitas masyarakat melambat karena banyak orang ikut merayakan bersama. Dirayakan setiap tanggal 13–15 April, Songkran menandai dimulainya tahun baru tradisional Thailand. Songkran menghadirkan pengalaman budaya yang mendalam dan memungkinkan pengunjung merasakan kedekatan langsung dengan tradisi masyarakat Thailand.

Bagi masyarakat Thailand, air melambangkan proses pembersihan diri secara simbolis maupun spiritual. Secara tradisional, orang akan menyiramkan air secara lembut ke tangan orang tua dan patung Buddha sebagai simbol penghormatan dan membuang nasib buruk.

Song Nam Phra

Ini adalah ritual memandikan patung Buddha dengan air harum (biasanya dicampur bunga melati atau mawar). Ritual ini biasanya dilakukan di kuil, meskipun beberapa pusat perbelanjaan juga menghadirkan versi simbolisnya.

Rot Nam Dam Hua

Inilah tradisi yang sangat menyentuh. Kaum muda akan menuangkan air beraroma bunga ke telapak tangan orang tua atau guru sebagai tanda hormat dan untuk memohon berkat. Tradisi ini umumnya dilakukan kepada orang tua, guru, atau tokoh yang dihormati sebagai bentuk penghormatan sekaligus permohonan doa restu.

Membuat Pagoda Pasir

Warga biasanya pergi ke kuil (Wat) untuk membangun pagoda kecil dari pasir yang dihiasi bendera warna-warni. Pasir tersebut melambangkan tanah yang tanpa disadari terbawa oleh alas kaki sepanjang tahun.

Pesta Rakyat “Perang Air” Terbesar di Dunia

Di Bangkok, Khaosan Road dan Silom menjadi pusat keramaian tempat orang saling menyiram air. Di Chiang Mai, perayaan biasanya jauh lebih intens di sepanjang kanal Kota Tua. Selain air, orang-orang akan mengoleskan pasta bedak putih (Din Sor Pong) ke pipi satu sama lain. Secara tradisional, bedak ini sering digunakan sebagai simbol kebersamaan dan keceriaan selama perayaan. Jika seseorang mengoleskannya padamu, cukup tersenyum dan katakan “Sawasdee Pee Mai” (Selamat Tahun Baru).

Loy Krathong: Festival Cahaya yang Magis

Merupakan sisi lembut, puitis, dan spiritual dari berbagai festival di Thailand. Perayaan ini bukan sekadar objek foto yang menarik secara visual di media sosial, melainkan momen refleksi diri yang mendalam di tengah ribuan cahaya yang menghiasi air dan langit. Dirayakan pada malam bulan purnama di bulan ke-12 penanggalan Thailand (biasanya bulan November), Loy Krathong adalah sering dianggap sebagai salah satu perayaan paling indah secara visual.

Ritual Melarungkan Wadah

Warga akan melepaskan Krathong (wadah kecil yang terbuat dari batang pisang, dihiasi bunga, lilin, dan dupa) ke sungai atau kanal. Tujuannya adalah menghormati Dewi Air (Phra Mae Khongkha), sosok dalam kepercayaan tradisional Thailand yang berkaitan erat dengan unsur air dan keseimbangan alam.

Ada kepercayaan bahwa jika lilin di atas Krathong tetap menyala sampai hilang dari pandangan, dipercaya sebagai simbol harapan dan doa yang baik untuk masa depan. Banyak orang juga memasukkan potongan kuku atau helai rambut ke dalam wadah tersebut sebagai simbol membuang nasib buruk, kemarahan, dan kesedihan di masa lalu.

Yi Peng di Chiang Mai

Di wilayah Thailand Utara, khususnya Chiang Mai, Loy Krathong sering bertepatan dengan festival Yi Peng, meskipun keduanya berasal dari tradisi yang berbeda. Pemandangan ribuan cahaya di langit dan di air menciptakan atmosfer yang sangat magis bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Khom Loy (Lampion Terbang)

Di sini, masyarakat tidak hanya melarungkan cahaya di air, tetapi juga menerbangkan ribuan lampion kertas ke angkasa. Bayangkan langit malam yang gelap tiba-tiba dipenuhi titik-titik cahaya keemasan yang bergerak pelan. Pemandangan ini sering dianggap sebagai salah satu momen paling berkesan dalam festival budaya.

Menerbangkan lampion melambangkan pelepasan segala masalah dan kekhawatiran menuju ketinggian yang tak terbatas. Bagi mahasiswa, momen ini sering dimanfaatkan untuk mendoakan kelancaran studi dan masa depan karier yang cerah.

Makha Bucha & Visakha Bucha: Hari Suci Keagamaan

Berbeda dengan keriuhan air di Songkran atau gemerlap lampion di Loy Krathong, hari-hari suci seperti Makha Bucha dan Visakha Bucha memperlihatkan sisi Thailand yang sangat tenang, spiritual, dan reflektif. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Buddha, hari-hari besar keagamaan dirayakan dengan sangat tenang dan khidmat.

Hari Keajaiban dan Persatuan (Februari/Maret)

Hari suci ini diperingati pada periode Februari hingga Maret untuk mengenang peristiwa berkumpulnya 1.250 murid Buddha secara spontan tanpa perjanjian sebelumnya untuk mendengarkan khotbah. Uniknya, para murid tersebut diyakini sebagai pengikut yang telah mencapai tingkat spiritual tinggi. “Ovadapatimokkha”, yaitu: jangan berbuat jahat, lakukan kebajikan, dan murnikan pikiran. Beberapa orang masih melakukan pelepasan hewan sebagai simbol kebebasan, meskipun praktik ini kini mulai dipertimbangkan kembali karena dampak lingkungan.

Visakha Bucha (Mei/Juni)

Visakha Bucha merupakan hari suci paling penting dalam agama Buddha karena memperingati tiga peristiwa utama dalam kehidupan Sang Buddha yang diyakini terjadi pada tanggal yang sama, yaitu kelahiran, pencerahan (Bodhi), dan Parinirwana atau wafatnya Sang Buddha. Di hari ini, kuil-kuil akan sangat penuh. Warga akan mendengarkan khotbah yang lebih panjang dan melakukan meditasi bersama. Ini adalah waktu di mana masyarakat Thailand memanfaatkan waktunya untuk memperdalam praktik spiritual seperti meditasi dan refleksi diri.

Festival Vegetarian (Tesagan Gin Je)

Festival ini biasanya jatuh pada hari pertama hingga kesembilan dari bulan kesembilan penanggalan lunar Tiongkok (sekitar September atau Oktober). Selama periode ini, bendera kuning dengan tulisan merah (huruf “Je”) akan terlihat di banyak wilayah Thailand, terutama di daerah dengan komunitas Tionghoa yang kuat.

“Gin Je”: Pembersihan Luar dan Dalam

Istilah “Je” merujuk pada pola makan vegetarian ketat yang berakar pada tradisi spiritual Taoisme dalam budaya Tionghoa dan kemudian diadaptasi oleh komunitas Tionghoa-Thailand.

Penganutnya tidak hanya menghindari daging dan telur, tetapi juga sayuran beraroma tajam seperti bawang putih, bawang bombay, dan kucai yang dipercaya dapat memicu emosi atau gairah.

Selain makanan, peserta festival diharapkan menjaga pikiran tetap positif, mengenakan pakaian putih sebagai simbol kesucian, dan menjauhi alkohol serta perilaku negatif. Bagi mahasiswa, ini adalah momen untuk menjaga pola hidup lebih sehat dan menenangkan pikiran.

Hari Ulang Tahun Raja (Father’s Day)

Dalam budaya Thailand, raja sering dipandang sebagai simbol pemersatu dan pelindung bangsa dalam budaya Thailand. Oleh karena itu, tanggal tersebut juga menjadi hari untuk merayakan peran ayah dalam setiap keluarga.

Meskipun saat ini Thailand dipimpin oleh Raja Rama X, tanggal 5 Desember (hari lahir mendiang Raja Bhumibol Adulyadej atau Raja Rama IX) tetap dipertahankan sebagai Hari Ayah Nasional. Hal ini berkaitan dengan sosok beliau yang dihormati sebagai “Ayah Bangsa” setelah memimpin Thailand selama lebih dari 70 tahun dengan dedikasi tinggi. Jika di negara Barat Hari Ibu identik dengan bunga anyelir, di Thailand Hari Ayah identik dengan bunga canna lily berwarna kuning (Dok Phuttharaksa), yang menjadi simbol penghormatan pada Hari Ayah di Thailand.

Memahami Budaya Thailand sebagai Langkah Awal Studi Internasional Bersama Tutoravel

Berbagai festival di Thailand menunjukkan kekayaan budaya yang dapat menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa internasional. Memahami budaya lokal membantu proses adaptasi, baik secara akademik maupun sosial.

Dalam proses tersebut, Tutoravel hadir sebagai pendamping yang menyediakan layanan konsultasi kuliah, kursus bahasa, serta bantuan pembuatan visa. Dengan persiapan yang tepat, studi di Thailand tidak hanya memberi pengalaman akademik, tetapi juga pemahaman budaya yang lebih luas.

0 Comments